Pendidikan di Era Keemasan Islam

Image

Pendidikan di Era Kejayaan Islam (Islamic golden age). Seri tulisan pendidikan Islam untuk anak muslim.
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Al-Khoirot
Ponpes Alkhoirot Karangsuko, Malang

Masa keemasan atau kejayaan pendidikan Islam terjadi pada paruh akhir abad ke-8 sampai paruh abad ke-13 masehi (kecuali era Hulagu, cucu Jengis Khan). Selama periode ini, seniman, insinyur, sarjana, penyair, filsuf, ahli geografi dan pebisnis di dunia Islam sama-sama berkontribusi pada perkembangan agrikultura, seni, perekonomian, industri, hukum, sastra, navigasi, filosofi, sains, sosiologi dan teknologi dengan cara memelihara tradisi sebelumnya dan dengan menambah invensi dan inovasi mereka sendiri.

Apa saja kontribusi keilmuan umat Islam di era ini tidak akan dielaborasi di sini. Saya hanya akan sedikit menggarisbawahi bagaimana situasi sosial, politik dan kejiwaan umat Islam saat itu sehingga timbul ghirah (spirit) yang tinggi dari mayoritas umat terhadap ilmu pengetahuan sehingga mereka menjadi inspirasi bagi umat lain pada zamannya.

Peran Agama

Islam menempatkan Ilmu dan ahli ilmu dalam posisi yang sangat tinggi. Nabi menyerukan agar setiap individu muslim mencari ilmu “sampai ke negeri China.” Dan bahwa “tinta seorang intelektual itu lebih berharga daripada darah seorang yang mati syahid.”  Al Quran menegaskan bahwa ahli ilmu jauh lebih tinggi derajatnya daripada orang biasa (QS Al Mujadalah 58:11).

Motivasi dan dorongan dari internal ajaran Islam itu sendiri sebenarnya sudah cukup kuat untuk membuat umat Islam pada era ini menjadi begitu bersemangat untuk menimba dan mengeksploarsi ilmu seoptimal mungkin.

Peran Negara

Selama peirode emas ini, dunia Islam berada di bawah kepemimpinan khilafah Abbasiyah.  Khalifah Abbasiyah yang sangat berperan pada saat itu adalah Khalifah Makmun Al Rasyid, putra Khalifah Harun Al Rasyid,  yang mendirikan Baitul Hikmah (Rumah Kearifan).

Di Baitul Hikmah inlah berbagai ilmuwan, muslim dan non-muslim, berkumpul dan menterjemahkan seluruh keilmuan dunia ke bahasa Arab.

Banyak karya-karya klasik yang sudah terlupakan diterjemah ke dalam bahasa Arab. Terjemahan versi bahasa Arab ini di kemudian hari diterjemah ke dalam berbagai bahasa seperti Turki, Persia, Ibrani dan Latin. Banyak karya klasik yang dikumpulkan dan dijadikan satu dari berbagai karya-karya yang berasal dari Mesopotamia kuno, Romawi kuno, China, India, Persia, Mesir kuno, Afrika Utara, Yunani Kuno, dan peradaban Bizantium.

Khilafah Islam lain yang merupakan rival dari dinasti Abbasiyah seperti Fatimiyah di Mesir dan Umayyah di Al Andalusia Spanyol bersaing untuk juga menjadi pusat keilmuan. Dengan demikian, Kairo, Kordoba dan Baghdad sama-sama menjadi pusat keilmuan dunia pada zamannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s